Minggu kemarin (8 Juni) aku undangan kerumah salah satu teman es em a ku. Namanya Aprasiaty Anjeli. Sebenarnya bukan satu es em a tapi aku kenal dia waktu es em a gitu.
Orang lain yang tahu kedekatanku padanya “masih” menganggap ada hubungan spesial antara aku dengannya. Dulu aku pernah dekat dengan Anjeli hanya sebatas hubungan kakak-adik namun orang lain mengartikannya adalah hubungan khusus seperti pacaran.
Sedikit flash back kebelakang, perkenalanku dengannya berawal dari kedekatannya dari salah satu temanku, Habibie, yang saat itu sedang ada masalah internal diantara mereka. Aku sih menganggap hubungan mereka sebatas sahabatan. Keberanianku untuk menelepon Anjeli untuk menyelesaikan konflik diantara mereka disambut dengan baik olehnya yang akhirnya aku bersahabat dan menjalin hubungan kakak-adik. Peristiwa itu kira-kira terjadi lima tahun yang lalu.
Anjeli adalah bunga sekolah di SMUN 2 Tebingtinggi angkatan tahun 2000 sedangkan aku sendiri bunga bangkai di SMUN 1 Tebingtinggi dengan angkatan yang sama, tahun 2000. Awalnya tidak ada masalah dengan persahabatan diantara kami dan aku pun tidak ada sedikit niat menjadikan Anjeli lebih dari seorang kakakku, begitu juga dengan dia. Hingga akhirnya komitmen itu runtuh dikarenakan kepercayaanya pada orang-orang disekitar yang beranggapan aku melanggar komitmen yang telah kami bentuk.
Kontan saja aku marah, marah semarahnya!
Hubungan yang sudah terjalin setahun lamanya dengan kemarahan kuhancurkan sekenanya. Sangat sulit menerima perlakuan seseorang yang sangat aku percayai dan tiba-tiba berbicara bahwa aku mengkhianatinya tanpa dapat memberikan bukti, hanya mendengarkan kata-kata yang tak benar. Dengan tegas kukatakan, “kau telah mati sebagai kakakku !”
Sudah 4 tahun berlalu dan kini aku akan datang ke pesta pernikahan “teman baikku” itu. Jeans hitam dan kemeja hitam bergaris kukenakan menuju kediamannya. Sebelumnya aku kerumah Zainal dan Rusdi untuk pergi bareng kesana. Dan jadi lah kami trio macan ompong.
Perjalanan dari rumah Rusdi (karena rumah Rusdi persinggahan terakhir) hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja.
Pesta itu tidak begitu meriah. Setelah memakirkan sepeda motor kami sedikit beradu argumen siapa yang akan membawa kado yang telah aku siapkan. Dengan lapang hati akhirnya aku membawakan kado. Layaknya pangeran yang sedang ditunggu ditiang pancungan, kami pun berjalan.
“ eh, Arif. Makasih udah datang ya” seorang perempuan setengah baya berdiri dihadapanku sambil mengulurkan tangannya. Ibu-nya Anjeli menyambut kedatangan kami.
Senyum.
Aku sebagai orang terdepan dari kami bertiga hanya dapat tersenyum. Kusambut uluran tangan perempuan setengah baya itu sambil menundukkan badan sebagai tanda hormat. Dan aku pun berjalan meninggalkan teman-temanku dibelakang menuju tempat peletakkan kado, isi nama dan mendapat cendera mata dan menuju prasmanan yang telah tersedia.
Suara musik belum terdengar mengalun untuk menghibur para undangan. Meja dan kursi masih terlihat banyak yang kosong menandakan para undangan masih sangat jarang walaupun sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kami bertiga mengambil kursi dan meja yang kosong tak jauh dari kami.
“kalian koq lama kali tadi”disela-sela makan aku bertanya pada dua temanku, Rusdi dan Zainal.
“ya iyalah. Kami kan nyalamin mamak dan bapaknya. Bukan macem kau hanya nyalamin mamaknya” kata Zainal
“aku tadi nyariin bapaknya tapi aku gak nampak”
“memang bapaknya yang mana?” tanyaku sambil meminum aqua dihadapanku (red: aqua gelas BUKAN aqua gallon!)
“disampingnya. Memangnya tadi kau gak nampak rif?” tanya Rusdi.
“itu bapaknya? Kiraian tadi pak annas, orang kantor pajak” jawabku
“ehm… bapaknya kan memang pak annas.” Kata mereka hampir serempak. O alah kirain itu tetangganya yang bantuin, batinku.
Suara musik dari keyboard yang berada tak jauh dari kami mulai memainkan lagu khas dari kota minangkabau. Para undangan pun mulai memenuhi tempat duduk yang disediakan.
“pulang kita nih? Kan mau kerumah kakakmu dulu kan rus” tanyaku.
“ya udah. Gerak lah” jawab Zainal.
Kami pun berdiri dan bergerak menuju pelaminan pengantin. Terlihat dua orang yang sedang bersanding disana. Pertama kali kupastikan adalah mereka adalah lelaki dan perempuan. Setelah kepastian itu kumiliki aku berjalan kearah pelaminan yang aku lihat seperti panggung yang dikasih kursi dengan dua orang yang jadi pajangan dan siap untuk menyalami siapa saja, termasuk kami. TRIO MACAN OMPONG.
Terlintas dalam pikiranku apa yang harus kulakukan diatas panggung nanti. Dalam perjalanan yang kuanggap sangat biasa itu ada beberapa lintasan pikiran dibenakku:
Alternatif I : jalan, salaman, mengucapkan kata “jaga temanku” pada mempelai pria, berdiri tepat di depan Anjeli dan tersenyum tanpa berbicara apa-apa kemudian menuruni tangga panggung.
Alternaitf II : jalan, salaman, berbincang-bincang sok akrab dengan mempelai pria, lalu berjalan turun tanpa harus menatap dan mengucapkan apa-apa pada Anjeli.
Alternatif III : mengeluarkan ilmu menghilang dan tiba-tiba berada dikamar hotel Melati (ngapain ya di hotel melati?)
Dan aku tidak memilih alternatif yang terlintas dibenakku (jadi ngapain aku mikir ya?). berjalan menaiki panggung, tersenyum dan bersalaman dengan pengantin pria TANPA bersalaman dengan pengantin wanita (Anjeli) kemudian turun dari panggung menuju tempat parkir.
Tidak ada kata sedih dan bahagia. Aku hanya menganggap ini adalah sebuah undangan dari orang yang sama sekali tidak pernah kenal aku dan aku lebih menyadari ini tak lebih reuni kami bertiga (Rusdi, Zainal dan aku).
28 Maret 1985 - 8 juni 2008 Anjeli menjalani hidup dengan kesendirian dan kini ia telah menjalani kehidupan dengan orang pilihannya. Tanpa rasa sedih dan bahagia, aku tersenyum berhasil menjaga hatiku dari sangkaannya yang mencintainya lebih dari seorang sahabat dan hingga akad nikah terjadi tadi pagi Anjeli tidak mampu membuktikan kata-katanya karena memang tak ada yang harus dibuktikan.
Tersenyum. Kemenangan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar